MENCINTAI DISABILITAS BUAH PERSEKUTUAN DENGAN TUHAN

*Gembala Menyapa*
22 Februari 2019

*MENCINTAI KAUM DISABILITAS BUAH PERSEKUTUAN DENGAN TUHAN*
1 Yohanes 4:7-21

Perenungan di saat ini mengajak kita semua untuk lebih memperhatikan kaum disabilitas.

Albert Einstein pernah mengatakan demikian: *”Saat kita menerima keterbatasan, maka saat itulah kita melampauinya”.*

Kata disabilitas sudah disepakati untuk menggantikan kata “cacat” yg sering digunakan. Kenapa harus diganti? Karena kata cacat punya makna: tidak utuh, tidak sempurna. Kaum disabilitas adalah tetap orang yg lengkap&sempurna, namun mempunyai sesuatu yg berbeda dengan orang lain.

Dr. Luh Kurnia Wahyuni, SpKFR-K mengatakan: *disabilitas bukanlah kutuk (dosa turunan), namun rusaknya anggota tubuh yg menyebabkan kelainan baik organ dalam maupun bagian tubuh. Hal ini disebabkan bawaan lahir atau kecelakaan sehingga orang menyandang disabilitas.*

Melihat kondisi yg demikian, apa yg kemudian kita lakukan sebagai keluarga & gereja terhadap saudara-saudara kita kamu disabilitas?

Bacaan kita saat ini tidak berbicara langsung mengenai kaum disabilitas, namun tentang kasih kepada Allah yg ditunjukkan secara nyata kepada sesama. Bagaimana mungkin mengasihi Allah yg tidak kelihatan, sedangkan dengan saudaranya yg kelihatan saja tidak bisa?

Kasih kepada Allah diwujudkan secara kepada sesama, terlebih saudara yg “paling hina”, maka Yesus mengatakan: “Engkau telah melakukannya untuk-Ku”.

Sudahkah kita ramah kepada mereka? Gereja juga ramah kepada mereka? Dengan membuat fasilitas yg memudahkan mereka. Sudahkah kita juga memberikan hak yg sama kepada mereka? Kalau belum, mari kita *BERGERAK untuk DISABILITAS!*

*#SalamWelasAsih*

*NB: jika merasa diberkati melalui renungan ini, kirimkan ke saudara-saudara yang lain*

AKU RAPAPA

*Gembala Menyapa*
20 Februari 2019

*AKU RAPAPA*
Filipi 4:4-9

Awal pemerintahan Presiden Joko Widodo, beliau mendengungkan slogan: *Revolusi Mental*. Mengapa Revolusi Mental didengungkan? Karena tanpa perubahan mental&cara pandang, maka pembangunan tidak akan berjalan dengan maksimal.

Bacaan kita saat ini juga menunjukkan bagaimana pentingnya mental&cara pandang positif.

Ketika itu, Paulus sedang di penjara. Tentu kehidupan penjara sesuatu yg tidak menyenangkan. Lihatlah seorang AD (penyanyi&sekarang menjadi politikus yg di penjara karena ujaran kebencian) yg mengeluh tidur seruangan dengan 15 orang&sering dikentuti.

Paulus dengan kondisi yg lebih berat, tidak galau&depresi dengan kondisi tersebut. Malahan dia mampu bersukacita di tengah penderitaan yg dialami. Lalu apa resepnya mampu bersukacita dalam segala kondisi?

*1.Think positive (ay 8).* Kekuatan pemikiran positif sungguh menjadi sumber kekuatan menghadapi kehidupan yg berat.
*2. Kesadaran akan siapa dirinya (ay 9).* Paulus sering mengajar supaya umat tabah menghadapi penderitaan, hal tersebut menyadarkannya bahwa Paulus juga harus tabah ketika menghadapi penderitaan.
*3. Doa&ungkapan syukur (ay 6).* Mengapa tidak hanya doa saja namun juga dengan ungkapan syukur? Karena ketika penderitaan hadir, orang lalu berdoa. Isi doa hanya berisi keluhan dan keluhan saja. Orang tersebut lupa betapa banyaknya berkat, kebaikan yg sudah Tuhan limpahkan bagi dirinya.

Paulus bisa bertahan menghadapi badai kehidupan yg dialaminya. Lalu bagaimana dengan kita? Belajarlah dari Paulus, maka kita juga akan mampu bertahan…πŸ™πŸΏπŸ’ͺ🏿

*#SalamWelasAsih*

*NB: Jika merasa diberkati melalui renungan ini, kirimkan ke saudara-saudara yang lain*

PEMBAHARUAN,SIAPKAH?

Gembala Menyapa
19 Februari 2019

PEMBAHARUAN,SIAPKAH?
1 Timotius 4:12-16

Pembaharuan, sebuah kata yg memiliki 2 sisi: ditakuti dan dibutuhkan. Ditakuti oleh orang-orang yg sudah terlanjur merasa nyaman dengan hidupnya, sehingga ketika terjadi pembaharuan akan mengganggu kestabilan hidupnya. Di sisi lain, pembaharuan merupakan sebuah kebutuhan, karena adanya kesadaran bahwa hidup ini tidaklah sempurna & juga terjadi perubahan terus menerus sehingga pembaharuan diperlukan untuk proses adaptasi.

Lalu pertanyaannya: “Siapa yg diharapkan menjadi pembaharu?”. Siapapun punya hak yg sama, namun lebih baiknya dilakukan oleh kaum muda. Karena pembaharuan berhubungan dengan masa depan. Masa depan adalah milik kaum muda.

Pemberian kesempatan kepada generasi yg lebih muda adalah keniscayaan yg tidak dapat dihindari atau ditunda.

Paulus menasihati Timotius, orang muda yg dipercaya untuk memimpin jemaat Tuhan. Hal yg harus diperhatikan oleh Timotius adalah keteladanan iman & kasih yg mesti dinyatakan dalam hidupnya. Hanya dengan cara itulah orang tidak akan memandang kemudaannya.

Alkitab banyak memberi contoh bagaimana anak-anak muda diberikan kesempatan untuk berkiprah. Kita perlu belajar memberi apresiasi kepada kaum muda. Namun mereka bukanlah orang yg sempurna, mereka pasti akan melakukan kesalahan. Ketika itu terjadi, maka peran generasi yg lebih tua untuk mendampingi, menasehati dengan penuh kasih& persaudaraan. Bukan dengan nyinyir &menjatuhkan.

Di sisi lain, kaum muda jadilah pembaharu; bukan sekedar peniru & pembebek. Oleh karena itu hiduplah dalam iman, kasih & pengharapan.

#SalamWelasAsih

NB: jika merasa diberkati melalui renungan ini, kirimkan ke saudara-saudara yang lain

SINGING GLORY PRAISE THE LORD

*Gembala Menyapa*
18 Februari 2019

*SINGING GLORY PRAISE THE LORD*
1 Korintus 14:1-5, 13-19

Nyanyian pujian adalah bagian yg tidak terpisahkan dalam ibadah Kristen. Nyanyian pujian semakin berkembang dari waktu ke waktu. Diskusi mengenai ibadah seringkali berujung pada ketidaksepakatan. Penyebabnya rujukan mengenai nyanyian ibadah sangat terbatas di Alkitab& lebih didasari pemahaman&selera musik pribadi.

Salah satu rujukan dalam Alkitab adalah bacaan kita sekarang. Tapi untuk lebih paham maksud Paulus, maka kita perlu lihat konteksnya.

1 Korintus dituliskan karena terjadi ketidaktepatan pemahaman tentang bahasa roh. Merek menganggap bahwa bahasa roh adalah karunia tertinggi, sehingga mereka berlomba-lomba berbahasa roh. Paulus kemudian mengingatkan bahwa semua karunia itu penting&saling melengkapi.

Dalam ibadah yg dibangun bukan hanya aspek pribadi tapi juga komunitas. Bernyanyi dengan roh & akal budi berarti membangun hubungan pribadi dengan Tuhan & membangun kerohanian sesama.

Tapi banyak yg tidak sadar, sehingga yg terjadi:
*a. Tidak bernyanyi dengan suara, dengan alasan cukup dalam hati*
*b. Tidak bernyanyi jika jenis musiknya tidak sesuai selera*
*c. Tidak menyanyi jika iringan musik tidak sesuai selera*

Padahal, saat kita menyanyi punya peran yg luar biasa:
*1. Membangkitkan semangat orang yg datang beribadah*
*2. Menumbuhkan pengharapan bagi yg putus asa*
*3. Meneguhkan hati orang yg dalam kebimbangan*
*4. Menegur, membawa pertobatan kepada yg berkubang dalam dosa*
*5. Mengajar orang yg mulai sesat karena pengajaran yg salah*

So, sudahkah kita menyanyi dengan segenap roh & akal budi di setiap persekutuan & ibadah kita?

*SalamWelasAsih*

*NB: jika merasa diberkati melalui renungan ini, kirimkan ke saudara-saudara yang lain*

BERBAHAGIALAH ENGKAU

*Gembala Menyapa*
17 Februari 2019

*BERBAHAGIALAH ENGKAU!*
Lukas 6:17-26

Wolak-waliking jaman. Berbahagialah yg miskin? Celakalah yg kaya? Bukankah yg wajar&normal itu yg berbahagia yg kaya, karena mereka mampu memenuhi segala yg menjadi kebutuhannya. Celaka adalah yg miskin karena mereka kesulitan memenuhi kebutuhannya.

Kata berbahagialah, berasal dari bahasa Yunani _makarios_ yg artinya lebih ke diberkatilah. Orang yg diberkati, tetap merasakan kedamaian dalam kondisi yg tidak ideal.

Lalu apa arti berbahagialah yg miskin, lapar & menangis?
*a. Miskin: bukan hanya tidak punya harta, melainkan tidak punya jaminan hidup& pertolongan kecuali dari Tuhan*
*b. Lapar: bukan lapar fisik, tapi lapar untuk melakukan kebenaran firman Tuhan*
*c. Menangis: menangis karena menyesali dosa & pelanggarannya*

Lalu, apakah kita menjadi pribadi& jemaat yg selalu merasa “miskin”, “lapar” & “menangis”? Jika demikian, berbahagialah (diberkatilah) engkau!!!

*#SalamWelasAsih*

*NB: jika merasa diberkati melalui renungan ini, kirimkan ke saudara-saudara yang lain*