MENELADANI KRISTUS SEBAGAI PEMIMPIN SEJATI

*Gembala Menyapa*
16 Februari 2019

*MENELADANI KRISTUS SEBAGAI PEMIMPIN SEJATI*
Matius 23:1-12

Kepemimpinan yg diberkati oleh Allah, berbeda dengan kecenderungan pemimpin yg ingin membesarkan dirinya. Pemimpin yg membesarkan dirinya berorientasi pada dirinya sebagai pusat. Sebaliknya, pemimpin yg dibesarkan Allah adalah pemimpin yg sepenuhnya bersandar penuh kepada anugerah Allah.

Bacaan kita saat ini merupakan teguran Yesus kepada ahli taurat & orang-orang farisi. Mereka “menduduki kursi Musa” yg artinya: punya kewenangan untuk mengajar, menafsirkan & menjelaskan Kitab-kitab Musa (Pentateukh); namun mereka tidak punya _”kredibilitas & integritas”_

Lalu bagaimana menjadi pemimpin yg baik?
*1. Jangan jadikan diri kita sebagai pusat*. Kalau ini yg terjadi akan menyebabkan: otoriter, demokrasi tidak berjalan, atmosfer perkumpulan tersebut tidak kondusif.
*2. Milikilah kredibilitas & integritas (ay 5)*. Jadi pemimpin yg dapat dipercaya&memiliki kesamaan antara ucapan dengan tindakan.
*3. Mendasari dengan kerendahan hati (ay 11).*

*#SalamWelasAsih*

*NB: jika merasa diberkati melalui renungan ini, kirimkan ke saudara-saudara yang lain*

MAHA DAYA CINTA

*Gembala Menyapa*
14 Februari 2019

*MAHA DAYA CINTA*
Kejadian 29:18-30

Happy Valentine semua.
Because it’s Valentine, so let’s talk about LOVE…😘😍❤💖

Cinta,siapa yg belum pernah jatuh cinta? Kata orang ketika jatuh cinta tai 🐈 serasa coklat.
Ada lagu yg demikian:
_Wong yen lagi gandrung, ra peduli mbledhose gunung. Wong yen lagi naksir, ra peduli yen perang nuklir. Nadyan lagi bokek, direwangi nrethek-nrethek._

Cinta,menjadi sumber kekuatan bagi seseorang untuk melakukan sesuatu bahkan meskipun itu sesuatu yg tidak mudah; semua akan dilakukan demi yg tercinta.

Demikian jg bacaan kita sekarang. Ketika Yakub jatuh cinta kepada Rahel, dia mau melakukan apapun demi mendapatkan Rahel. Bahkan ketika ia ditipu oleh Laban, ia tetap berjuang melakukannya.

Demikian ketika seseorang mencintai orang lain. Namun apakah itu juga berlaku dalam hubungan kita dengan Tuhan?

Tuhan sudah menyatakan cinta-Nya kepada kita. Apakah kita sudah membalas cinta-Nya? Ketika kita mengatakan kita mencintai (mengasihi) Tuhan, apakah kita sudah sungguh-sungguh menunjukkan cinta kita kepada-Nya? Atau “cinta” kita hanya sekedar “manis di bibir”, tanpa mewujud dalam aksi?

Cinta kepada manusia saja, kita rela melakukan apapun. Meskipun orang tersebut melukai kita. Bagaimana dengan Tuhan. Dia tak pernah melukai kita. Dia senantiasa setia kepada kita. Sudahkah kita memberikan yg terbaik bagi Dia? Kalau dengan manusia saja bisa, kenapa tidak dengan Tuhan? Situ sehat?😅

*#SalamWelasAsih*

*NB: jika merasa diberkati melalui renungan ini, kirimkan ke saudara-saudara yang lain*

SENDIRIAN NAMUN TIDAK KESEPIAN

*Gembala Menyapa*
13 Februari 2019

*SENDIRIAN NAMUN TIDAK KESEPIAN*
Mazmur 25:16

Kesepian,tidaklah sama dengan sendirian. Kesepian merupakan sebuah perasaan keterasingan; daripada sebuah keadaan seorang diri. Seorang bisa saja kesepian di tengah kerumunan massa. Sebaliknya, seorang diri dalam gelapnya malam orang mungkin saja tidak merasakan kesepian. Kebebasan dari rasa sepi tidak tergantung dari banyaknya manusia yg hadir, namun dari hubungannya dengan seseorang.

Kalau kita membaca di Kitab Suci, tidak banyak yg berbicara tentang kesepian. Kemungkinan, umat merasa pentingnya kehidupan bersama.

Kesepian, merupakan salah satu masalah yg dimiliki oleh manusia dari jaman ke jaman, semakin menguat di era modern ini. Menurut Henri Nouwen dalam bukunya Yang Terluka Yang Menyembuhkan: *”Luka kesepian sungguh dalam. Mungkin kita sudah melupakannya karena ada begitu banyak hiburan dan selingan. Namun ketidakberhasilan untuk mengubah dunia dengan maksud baik dan karya kita, membuat kita tersadar bahwa luka itu masih ada”.*

Kesepian, sering juga menjadi masalah sekaligus ujian bagi para aktivis gerejawi. Hidupnya selalu berada di antara orang-orang yg dilayaninya. Seakan-akan waktu tidak pernah cukup untuk membantu sesamanya. Namun, di saat-saat tertentu, ia merasakan kesepian. Ia mendedikasikan hidupnya untuk memperhatikan orang lain, ketika orang lain bermasalah ia memperhatikan. Namun ketika ia sendiri sedang menghadapi masalah, tidak ada seorangpun yg memperhatikan.

Dalam situasi yg demikian, Daud tahu bahwa Allah-lah yg dapat menolongnya. Ia berseru agar Tuhan berpaling & mengasihinya. Dalam bagian Mazmur yg lain, Daud berseru: *”Sekalipun ayahku dan ibuku meninggalkan aku, namun Tuhan menyambut aku” (Mzm 27:10).*

Lewat seruan itu, kita memahami bahwa orang terdekat sekalipun dapat meninggalkan kita. Tapi hanya Allah lah yg dapat diandalkan. *Ia bukan hanya teman & sahabat di kala sunyi, namun Ia adalah sumber kehidupan itu sendiri.*

*#SalamWelasAsih*

*NB: jika merasa diberkati melalui renungan ini, kirimkan ke saudara-saudara yang lain*

BENARKAH AKU SIAP MELAYANI TUHAN

*Gembala Menyapa*
12 Februari 2019

*AKU SIAP MELAYANI TUHAN! BENARKAH?*
Yohanes 4:35

Betapa seringnya seorang aktivis gereja memulai karyanya dengan impian besar: _”Dunia harus berubah&Tuhan memanggil saya untuk melakukannya”._ Lalu dengan sukarela mempersiapkan diri sebaik mungkin, lalu berangkatlah ia dengan idealisme menggebu.

Di awal karya, ucapan Yesus ini seakan bergaung sangat jelas: *”Lihatlah sekelilingmu dan pandanglah ladang-ladang yang sudah menguning dan matang untuk dituai” (Yoh 4:35).*

Tapi setelah sekian lama, kita mulai bertanya: _”Mengapa ladang yg menguning ini tidak juga siap dituai? Mengapa tidak ada perubahan berarti? Mengapa saya ditolak?”_

Kemudian kita melakukan kalkulasi, dari berapa waktu yg telah dihabiskan, tenaga& uang yg “terbuang”, sampai kalkulasi iman: _”Mengapa Tuhan diam, sementara aku bekerja keras, penuh kerelaan, demi Dia”_.

Kalau itu yg terjadi, sesungguhnya kita tidak melayani Tuhan. Kita juga tidak melayani mereka. Namun kita melayani ambisi, harapan& impian kita sendiri. Orang yg kita layani & Tuhan, hanya jadi obyek untuk membantu memuaskan dahaga kita akan ambisi.

Oleh karena itu, tepat sekali perkataan Bunda Teresa: *”Tuhan memanggil kita bukan untuk berhasil, melainkan untuk setia”.*

*#SalamWelasAsih*

*NB: jika merasa diberkati melalui renungan ini, kirimkan ke saudara-saudara yang lain*